MEWUJUDKAN MANUSIA BERKARAKTER PANCASILA MELALUI PENERAPAN BUDAYA POSITIF





Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran dan pendidikan adalah dua kata yang berbeda. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberikan ilmu atau berfaedah untuk kecakapan anak lahir dan bathin. Sedangkan pendidikan adalah proses memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun anggota masyarakat.

Ada 3 asas yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu : ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh), ing madya mangun karso (ditengah memberi inspirasi), dan tut wuri handayani (di belakang memberi motivasi). Ketiga asas ini, menjadikan seorang guru sangat berperan penting dalam pendidikan anak. Bukan hanya dalam pendidikan akademik saja namun yang juga penting adalah pendidikan karakter anak agar nantinya mampu menjadi manusia merdeka lahir dan bathin yang selamat dan bahagia sebagai manusia maupun anggota masyarakat. 

Untuk itulah, seiring dengan pendidikan karakter anak, perlu adanya suatu pembiasaan mulai dari lingkungan sekolah. Menanamkan nilai-nilai kebajikan dan budaya positif akan mampu mewujudkan anak-anak yang memiliki nili-nilai luhur yang sejalan dengan profil pelajar pancasila. 

Salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaan-kebiasaan baik; dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah, dan pada akhirnya karakter-karakter dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif.

Dalam rangka membentuk suatu budaya positif, salah satu hal yang perlu kita tinjau kembali adalah penerapan disiplin. Makna disiplin berkaitan erat dengan nilai-nilai kebajikan universal. Nilai-nilai kebajikan universal anak-anak Indonesia kita kenal dengan Profil Pelajar Pancasila yang teridir atas 5 kebajikan : 1. Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2. mandiri; 3. bernalar kritis; 4. berkebhinekaan global; 5. bergotong royong; 6. kreatif

Jika selama ini makna disiplin selalu dihubungkan dengan  ketaatan dan kepatuhan, serta ada sanksi jika tidak mematuhinya, maka tidak demikian halnya dengan disiplin positif. Disiplin positif adalah menanamkan motivasi kepada murid untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Disiplin positif tidak memberlakukan suatu hukuman. Bisa jadi hukuman adalah alternatif terakhir selama disiplin positif bisa dijalankan.

Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri.

Perlunya motivasi internal dari diri murid, maka perlu adanya suatu keyakinan kelas. Agar penerapan disiplin positif dari diri murid adalah karena adanya keinginan untuk menghargai dirinya dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Dari keyakinan kelas, akan muncul kesepakatan kelas yang nantinya diharapkan akan mampu memunculkan disiplin positifi dari diri murid.

Membuat suatu kesepakatan kelas memerlukan tahapan-tahapan : 
1. Memberikan contoh kepada murid bagaimana membuat suatu kesepakatan kelas


2. Murid mendiskusikan rancangan kesepakatan kelas dengan bimbingan guru



3. Murid berdiskusi dengan teman sekelasnya untuk menentukan kesepakatan kelas mana yang akan digunakan dari rancangan kesepakatan kelas yang telah dibuat


4. Diskusi kelas menghasilkan kesepakatan kelas yang telah diputuskan bersama dan dengan komitmen untuk menaati apa yang telah disepakati



Pada akhirnya, kesepakatan kelas ini akan menjadi seuatu kebiasaan yang tidak harus dilakukan karena adanya hukauman atau penghargaan. Sehingga akan menjadi suatu budaya positif yang berkelanjutan dan berkesinambungan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi murid.

Komentar